Buku
Error 404: Human Not Found Menemukan Jati Diri di Tengah Algoritma dan Hati
Terkait AI, manusia kini berada dalam dilema: apakah AI akan menjadi alat yang membantu mengefektifkan pekerjaan mereka atau justru menjadi pengatur hidup mereka. Bukankah banyak manusia yang kini hidupnya diatur oleh algoritma? Ketika likes dan comment menunjukkan ketertarikan kepada satu sisi hidupnya, manusia terus-menerus menyajikan sisinya yang itu, bahkan mencoba untuk tampil sempurna. Yang paling menyedihkan adalah banyak orang yang kehilangan dirinya sendiri, justru saat dunia begitu sibuk “melihat.”
Sam Altman, CEO OpenAI, pernah berkata, “AI sebetulnya berhalusinasi. AI seharusnya menjadi teknologi yang tidak boleh terlalu Anda percayai.” Ini tentu saja menarik sekali. Seseorang yang berpayah-payah mengembangkan AI mengajak manusia untuk berhati-hati kepada AI.
Menariknya, menyimak beberapa kejadian, peringatan Sam Altman di atas mungkin dianggap tidak berarti. Pada Februari 2025, dunia dihebohkan oleh Sewell Setzer III yang bunuh diri setelah mendapat saran dari AI. Lalu di Amerika Serikat sebuah survei menyatakan 8 dari 10 responden bersedia menikah dengan pasangan AI-nya. Lantas PM Swedia Ulf Kristersson memercayai AI untuk memberikan “pendapat kedua” sebelum dia mengeluarkan keputusan. Bahkan, pada September 2025, PM Albania Edi Rama “mengangkat” AI sebagai salah satu menterinya.
Maka, rasanya, tidaklah sederhana menemukan jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini. Buku ini dihadirkan bukan untuk menjawab pertanyaan itu secara instan, melainkan untuk menemani siapa pun menemukan jawabannya secara mandiri.
Dengan keberanian. Dengan rasa. Dengan kasih.
Kadang hidup terasa seperti notifikasi Error 404: arah tak menentu, tujuan tak bertemu. Mungkin bukan karena kita gagal, melainkan karena algoritma hidup kita terlalu lama diatur pihak lain.
Padahal, kode aslinya ada di hati kita.
Melalui buku Error 404: Human Not Found ini, penulis ingin menghadirkan ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk bertanya, tanpa takut ditertawakan. Ruang untuk menyadari bahwa manusia tidak harus sempurna untuk tetap berarti. Penulis percaya bahwa teknologi, termasuk AI, bukan untuk membuat manusia menjadi mesin yang cepat, melainkan untuk membantu menjadi manusia yang utuh. Kita tidak sedang menolak AI, tetapi juga tidak berserah padanya. Yang kita cari adalah jalan tengah, tempat nurani dan algoritma bisa berdampingan. Buku ini ingin membantu Gen Z dan Milenial Indonesia menyambut AI dengan lebih bijaksana, yaitu sebagai alat untuk berkembang, bukan justru membuat hilang arah. Di masa depan, kita butuh lebih banyak manusia yang canggih, bukan manusia yang dapat digantikan oleh mesin.
Tidak tersedia versi lain